Kamis, 21 Oktober 2010

{FanFics} Song Woo Bin's Story: Ada apa denganku???

before: Panggil aku Jin Hee...itu namaku!


Woo Bin baru saja tiba di rumahnya. Dia memandang jam yang terggantung kaku di dinding rumahnya, sudah tengah malam. Ternyata pernikahan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di memakan waktu yang cukup lama. Walaupun lelah, tapi entah mengapa ada perasaan bahagia yang meliputi hatinya. Jelas dia bahagia karena Jun Pyo dan Jan Di telah menikah. Tapi ada yang lain, ada alasan lain yang membuatnya menjadi lebih bahagia malam ini. Yaitu pertemuannya dengan Choi Jin Hee atau Ginger.
Dia masih ingat bagaimana di pesta tadi dia dan Jin Hee bisa begitu nyaman ketika mengobrol. Tapi satu hal yang membuat dia heran adalah perubahan yang terjadi pada diri Jin Hee. Seingatnya wanita itu sangat berbeda ketika di SMA. Jin Hee yang lebih dikenal dengan nama Ginger-nya itu adalah tipe mean girl. Dia bersama gengnya terkenal dengan kecantikan dan kecentilan. Keangkuhan dan kesombongan sudah begitu melekat dengan karakter mereka. Dan seingat Woo Bin mereka bertiga suka sekali mengganggu Geum Jan Di dan sangat memuja F4. Dan sekarang, semua itu seperti sudah terhapus bersih-bersih dari diri Jin Hee. Dia berubah menjadi sosok wanita dewasa, sopan dan lembut sekali.
Hah, Woo Bin menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Masih dengan pakaian lengkap dia kembali menerawang akan setiap detik kebersamaannya dengan Jin Hee tadi.

***

"Ada apa, sunbae? Kelihatannya kau banyak melamun malam ini?" tanya Jin Hee ketika dilihatnya Woo Bin banyak diamnya ketika Jin Hee sedang berbicara dengannya.
"Ah, siapa yang melamun. Aku hanya..." Woo Bin mendadak jadi gugup ketika ketahuan bahwa dia sedang melamun oleh Jin Hee.
"Hanya apa, sunbae?"
"Aku hanya merasa heran dengan dirimu."
"Heran? Tapi apa yang kau herankan, sunbae?"
Untuk sesaat Woo Bin terdiam. Dia sedang menimang-nimang apakah lebih baik mengatakan yang sebenarnya pada Jin Hee bahwa dia banyak melamun karena terpana dengan perubahan yang terjadi pada diri Jin Hee.
"Sebenarnya aku, hanya sedikit heran karena perubahan yang terjadi pada dirimu. Kau berbeda sekali Jin Hee. Kau jauh berubah dari sosok Ginger yang aku ketahui dulu."
Jin Hee tersenyum mengerti mendengar perkataan Woo Bin itu.
"Tidak ada yang perlu diherankan kurasa, sunbae. Hidup itu perlu perubahan kurasa. Bukankah perubahan menjadi lebih baik itu bagus, sunbae? Karena itu aku ingin berubah. Aku tidak ingin selamanya terjebak dalam diri seorang Ginger yang mean, sombong, centil, atau apalah itu. Aku hanya ingin menjadi lebih baik, sunbae." Jelas Jin Hee panjang lebar. Ada sedikit keanehan yang terpancar dari dua mata Jin Hee ketika dia menjelaskan semua itu.
"Wow, itu bagus sekali Jin Hee. Aku kagum pada dirimu."
"Terima kasih, sunbae!"

"Oh iya, Jin hee. Kau belum cerita padaku kemana saja kau selama kurang lebih lima tahun ini. Aku sama sekali tidak pernah mendengar namamu. Dan, apa yang kau lakukan? Oh iya, aku teringat dengan kedua teman SunMin-mu itu. Kemana mereka? Kenapa tidak tampak di sini?" berondong Woo Bin.
"Ah, mereka..." wajah Jin Hee mendadak berubah. Mendung seperti mengelilingi wajahnya. Senyum yang tadi selalu menghiasi wajahnya perlahan memudar mendengar setiap pertanyaan Woo Bin.
"Ada apa, Jin Hee? Kenapa tiba-tiba kau kelihatan sedih?" tanya Woo Bin khawatir. "Apakah aku salah bicara?"
"Tidak sunbae, aku hanya..."

"Woo Bin!" Mendadak suara Gu Jun Pyo terdengar.
Sontak Woo Bin dan Jin Hee menoleh ke arah datangnya suara Jun Pyo.
"Ada apa, Jun Pyo?"
Gu Jun Pyo datang menghampiri meja mereka.
"Kau di sini rupanya. Aku mencarimu dari tadi. Dan kau..." Jun Pyo melihat ke arah Jin Hee.
"Aku Choi Jin Hee, sunbae." Kata Jin Hee sambil berdiri dan membungkukkan badannya pada Jun Pyo.
Jun Pyo balas membungkukkan badan, "Choi Jin Hee... Ginger maksudmu?"
Jin Hee mengangguk dan tersenyum pada Jun Pyo.
"Ternyata kau datang juga. Terima kasih sudah menghadiri pernikahanku."
"Terima kasih juga sudah mengundangku, sunbae. Selamat atas pernikahanmu dengan Geum Jan Di."
Jun Pyo tersenyum, tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Jin Hee, kau datang sendirian. Waktu aku dan Jan Di mengantarkan undangan ke rumahmu bukannya..."
"Gu Jun Pyo!" Suara nyaring Jan Di terdengar dan memotong kalimat Jun Pyo.
Mereka bertiga melihat Jan Di sedang berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa, Jan Di?" tanya Jun Pyo.
"Bukannya tadi kau sedang mencari Woo Bin sunbae?"
"Oh iya." Jun Pyo menepuk dahinya , "Tapi aku sudah bertemu dengannya. Ini dia!" Jun Pyo menepuk bahu Woo Bin.
"Bagaimana kau ini, Jun Pyo. Dia sudah menunggu dari tadi." Kata Jan Di.
"Oh, baiklah. Aku akan segera membawa Woo Bin ke sana."
"Kau ingin membawaku kemana?" tanya Woo Bin heran memandangan pada Jun Pyo dan Jan Di.
Jun Pyo tersenyum nakal, "pokoknya kau ikut saja. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."
"Seseorang. Siapa?"
"Pokoknya kau ikut saja!" Jun Pyo menarik lengan Woo Bin, tapi Woo Bin menahannya.
"Kenapa?"
"Aku sedang bersama Jin Hee." Jawab Woo Bin.
"Ah iya, Nona Jin Hee. Bolehkan aku meminjam Woo Bin sebentar." Canda Jun Pyo.
Jin Hee tertawa kecil, "tentu saja, sunbae."
"Kau dengar sendiri kan, Woo Bin. Ayo!" ajak Jun Pyo.
"Jin Hee, tidak pa-pa aku tinggal sebentar?" tanya Woo Bin pada Jin Hee.
"Tentu saja tidak, sunbae. Take your time!"
Dengan berat hati Woo Bin meninggalkan Jin Hee sendirian demi mengikuti ajakan Jun Pyo dan Jan Di. Padahal dia masih ingin berbincang-bincang dengan Jin Hee.

Woo Bin berjalan mengikuti langkah kaki Jun Pyo dan Jan Di. Mereka membawanya ke meja lain yang jaraknya cukup jauh dari tempat dia dan Jin Hee tadi. Dia bisa melihat ada seorang wanita muda yang sedang duduk di sana bersama dua orang yang kelihatan seperti kedua orang tuanya.
Begitu melihat mereka datang, ketiga tamu yang ingin dipertemukan dengan Woo Bin itu segera bangkit dari kursi mereka. Katanya seseorang tapi ini kok ada tiga orang? tanya Woo Bin dalam hati.
"Ah, maaf Tuan Moon. Aku agak sedikit lama. Agak susah mencari raja real estate kita yang satu ini." kata Jun Pyo sambil melirik Woo Bin.
"Tidak pa-pa, Tuan Gu." Kata pria berusia sekitar lima puluhan itu pada Jun Pyo.
"Ah iya, ini dia temanku Song Woo Bin. Woo Bin kenalkan ini adalah Tuan Moon Tae Kyung, yang ini adalah istrinya Nyonya Moon Hwa Rang dan wanita cantik ini adalah putri mereka satu-satunya Moon Chae Won." Jun Pyo memperkenalkan anggota keluarga itu satu per satu.
Dengan sopan Woo Bin membungkukkan badannya kepada mereka.
"Senang berkenalan dengan anda, tuan Song." Kata tuan Moon.
"Begitu juga dengan saya," ujar Woo Bin.
"Jadi tuan Moon ini sedang mencari seseorang yang sangat mengerti bisnis real estate. Dan dia memintaku untuk mencarikan orang yang tepat untuk meminta nasihat dalam bidang ini, siapa lagi kalau bukan kau, Woo Bin." Kata Jun Pyo menjelaskan.
Woo Bin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau tidak keberatan kan, Woo Bin?"
"Tentu saja tidak. Sama sekali tidak." Jawab Woo Bin.
"Jadi apa yang bisa kubantu tuan Moon?" tanya Woo Bin pada tuan Moon.
"Begini tuan Song. Kau kan sangat mengerti sekali tentang bisnis real estate ini. Jadi aku mau minta tolong padamu untuk mengajarkan apa yang kau ketahui pada putriku, Chae Won. Karena dia sedang belajar bisnis real estate. Dia sedang melakukan riset untuk skripsinya di universitas Shin Hwa. Maukan kau membantu putriku, tuan Song?"
Song Woo Bin mengerutkan keningnya. Kenapa mesti aku yang ditawarkan oleh Gu Jun Pyo? Padahal pebisnis-pebisnis real estate yang lain juga banyak. katanya dalam hati. Dia menoleh ke arah Gu Jun Pyo yang dilihatnya sedang senyum-senyum sendiri. Entah kenapa dengan anak itu!
Demi menjaga kesopanan. Woo Bin pun mengiyakan permintaan tuan Moon itu.
"Baiklah. Aku akan berusaha semampuku."
"Terima kasih tuan Song. Kau baik sekali!" kali ini istrinya tuan Moon yang berbicara.
"Anakku ini sangat pemalu sekali," kata Nyonya Moon sambil memandang putrinya yang dari tadi menunduk saja, "Jadi mohon bimbingannya tuan Song!"
Sekilas Woo Bin melihat wanita bernama Moon Chae Won itu memandangnya, tapi langsung menunduk lagi ketika mata mereka bertemu.
"Baiklah."

Kurang ajar si Jun Pyo. Aku tahu maksudnya apa. Dia sengaja menawarkan aku untuk membantu putri tuan Moon agar aku bisa berkenalan dengannya. Kuno sekali caranya. Mana dia meninggalkan aku lagi tadi di meja tuan Moon. Untung mereka segera pamit pulang. Awas kau Jun Pyo akan kutendang lututmu nanti. Umpat Woo Bin dalam hati.
Dia bisa bernapas lega ketika tuan Moon dan keluarganya pamit pulang. Sekarang dia punya tugas baru. Yaitu mengurus putrinya tuan Moon, Moon Chae Won, untuk melakukan riset tentang bisnis real estate. Bagaimana nanti ya? Si Moon Chae Won itu kelihatan pendiam sekali. Tadi saja dia tidak banyak berbicara. Dia hanya tertunduk malu. Tapi tak bisa dipungkirinya Moon Chae Won itu sangat manis. Hah, semoga saja ketika melakukan riset nanti wanita itu tidak banyak diam seperti tadi.
Woo Bin berjalan mengelilingi ruang pesta pernikahan Jun Pyo dan Jan Di. Sudah sedikit sekali orang yang berada di sana. Malam sudah semakin larut, para tamu sudah banyak yang berpulangan. Tiba-tiba dia teringat Jin Hee. Kemana wanita itu? Dia mencarinya keseliling ruangan. Tapi dia tidak menemukan Jin Hee lagi. Mungkin dia sudah pulang, batin Woo Bin.
Entah kenapa ada angin kecewa yang berhembus ke dalam hatinya. Sebenarnya dia masih ingin mengobrol lagi dengan wanita itu. Ada banyak hal yang ingin dia ketahui lagi tentang Jin Hee. Sayangnya dia sudah pulang. Ah, aku lupa lagi tadi tidak meminta nomor teleponnya. Hei, tunggu dulu. Kenapa aku seperti ini? Ah, ada apa denganku??? Woo Bin tersenyum sendiri. Dia sendiri merasa aneh kenapa jadi memikirkan Jin Hee.

***

Masih dengan pakaian lengkap Woo Bin tidak sadar kalau mengingat setiap detik kebersamaannya dengan Jin Hee tadi membuat dia tertidur. Dalam mimpinya dia melihat Jin Hee sedang menangis sambil menggendong seorang anak kecil. Dan Moon Chae Won juga hadir dalam mimpinya, sedang tersenyum padanya sambil memakan pakaian pengantin.
Woo Bin terbangun. Dia berusaha mengingat-ingat mimpinya. Ah, mimpiku aneh sekali, batinnya. Ketika dilihatnya dia masih berpakaian lengkap dia segera menggantinya dengan pakaian tidur. Setelah itu melanjutkan tidurnya lagi.

tu bi kontinyu...

by: titam hersih

0 comments:

Posting Komentar